Beranda kodam II/ Sriwijaya Korem Gapo 044 Danrem 044 Gapo: Pemilu Kita Pemilu Bedulur

Danrem 044 Gapo: Pemilu Kita Pemilu Bedulur

PALEMBANG,   —   Tidak berapa lama lagi, 17 April nanti, seluruh rakyat Indonesia yang sudah punya hak pilih akan menentukan pandangan politiknya. Siapa memilih siapa akan ditentukan dalam bilik suara, segala perdebatan akan berakhir disitu.

Tujuannya satu, memilih RI 1. Pemilu 2019, itulah momen yang sekarang sedang memanas. Gejolak dan dinamikanya terasa sampai ke berbagai kalangan, mau politisi atau bukan, ramai debat di media sosial jadi santapan sehari-hari.

Komandan Korem 044/Gapo Palembang, Letkol Arh Sonny Septiono mengatakan, sebagai negara demokrasi, maka pelaksanaan pemilihan umum adalah sebuah keharusan. Disitulah hak politik warga negara ditentukan, sekaligus menunjukkan seberapa besar partisipasi warga terhadap kelangsungan bernegara dalam lima tahun ke depan.

“Semakin tinggi keiikutsertaan rakyat dalam pemilu, semakin baik pula kualitas demokrasi, dan semakin kuat legalitas pemimpin yang terpilih. Jelas bahwa pemilu adalah salah satu indikator dukungan publik terhadap pemimpinnya. Oleh karena itu, partisipasi warga negara menjadi sangat penting,” ucap Danrem, Senin (25/03/2019).

Tuntutan partisipasi yang besar tersebut akan berkelindan dengan berbagai pola dan metode kampanye yang diterapkan. Kampanye dalam ruang, penggunaan media massa, media luar ruang, media sosial, bahkan pola door to door, menjadi hal yang lazim dilakukan. Semuanya mengarah pada satu aspek yaitu, pilihan publik.

Pada konteks pesta demokrasi, lanjutnya, semua cara kampanye menjadi hal wajar dan memang begitulah seharusnya. Keramaian pesta, salah satu indikator keberhasilan, adalah partisipasi dari semua unsur masyarakat, dan seberapa banyak hal ini dijadikan sebagai bahan perbincangan.

“Tentu akan tidak asyik, jika pesta tak ada gegap gempitanya, tak jadi bahan obrolan, tak didiskusikan, tidak diramaikan. Keramaian dan riuh rendah dalam pesta demokrasi adalah sebuah kewajaran,” tambahnya.

Indonesia yang sudah berpengalaman banyak dalam pelaksanaan pesta demokrasi ini, menyisakan banyak catatan, baik positif maupun negatif. Positifnya tampak dari partisipasi publik, kebersamaan dan kedewasaan berpolitik semakin membaik. Negatifnya, proses transisi masih terus berlangsung sehingga riak-riak, konflik, dan pertikaian masih tampak di sana-sini.

- BACA JUGA  Korem 044/Gapo Ajak Masyarakat Kelola Alam Tanpa Membakar

“Wilayah Sumsel sendiri mencatatkan pada Pemilukada lalu di daerah Empat Lawang, konflik gara-gara pilkada sampai menelan korban jiwa. Begitulah berpolitik, segalanya berproses dan pada beberapa sisi membutuhkan kematangan dan kedewasaan terhadap perbedaan,” terang Danrem.

Jika ditilik dari konteks politik lokal masyarakat di Indonesia, termasuk Sumatera Selatan, sebenarnya kita sudah memiliki akar historis pelaksanaan pemilihan pemimpin yang demokratis, bermartabat, dan sejatinya Berdulur.

“Sumsel dulu memiliki pemerintahan Marga yang dikepalai oleh seorang Pasirah. Pada saat momen mancang Pasirah (pemilihan Pasirah), prosesnya sangat demokratis, semua warga terlibat, terbuka, dan nyaris tak ada konflik. Semua bisa menerima perbedaan dan semua bisa menerima apapun hasilnya. Model pemilihan Pasirah adalah model pemilihan pemimpin dengan filosofis Bedulur,” ungkap Kol Arh Sonny Septiono.

Bedulur adalah kosa kata khas Sumsel, kekayaan lokal masyarakat dan dikenal di semua lapisan. Bedulur adalah istilah yang merujuk pada kenyataan bahwa semua kita adalah bersaudara, terikat pada jalinan hubungan kekerabatan entah itu jauh atau dekat, disatukan oleh tanah dan air yang sama. Kita bedulur artinya kita bersaudara, senasib sepenanggungan, saling peduli, saling keruani istilah mendalamnya.

Dimanapun kita berada, sambug Danrem, jika rasa sedulur sudah ditanamkan, maka ikatan itu akan sangat kuat. Dalam level yang lebih luas, level bernegara, sebenarnya istilah bedulur identik dengan Nasionalisme, yaitu rasa kesatuan pada satu identitas yang sama, Indonesia.

“Oleh karena itu, mensikapi terhadap perkembangan dan dinamika menjelang pemilihan umum tahun ini, sangat penting kita suarakan dan dikembangkan terus semangat Bedulur ini. Pemilu kita adalah pemilu bedulur, pemilu bersaudara. Beda pilihan adalah hal yang wajar dan biasa, tapi semua kita sejatinya adalah bedulur,” katanya.

Menurut Danrem Gapo, bedulur adalah kekayaan yang harus kita bangkitkan kembali. Ini adalah mutiara terpendam, sesuatu yang sangat mulia. Tidak dipungkiri memang karena berbagai faktor ekternal, secara lambat laun, semangat ini mulai pula tergerus, mengabur dan cenderung menghilang. Rasa kebersamaan berganti perorangan, individual, cenderung tak mau tahu.

- BACA JUGA  Korem 044/Gapo Canangkan Zona Integritas Bebas Korupsi

“Berbeda dianggap hal tabu dan bahkan dianggap musuh, walau itu tetangga sendiri. Ini sangat berbahaya, karena bedulur hakekatnya adalah identitas Sumsel, identitas Indonesia juga. Membangkitkan batang terendam, penting pada konteks ini,” sebutnya.

Pemilu kita adalah pemilu bedulur. Gagasan ini harus kita dorong bersama. TNI serius mengembangkan ini, karena sekali lagi, inilah modal sosial yang kita miliki, ada di semua lini masyarakat.

“Seperti apa bedulur yang dimaksud? Setidaknya, dari jajaran TNI memahami ini sebagai sikap dan rasa saling peduli, rasa bersaudara, rasa tolong menolong, semangat korsa positif, rasa sensitifitas terhadap masalah sekitar, rasa saling melindungi. Rasa peduli diterjemahkan sebagai sikap gelisah dan tidak tenang saat orang lain kesusahan. Apapun pilihan politiknya, tapi kepedulian harus ada,” imbuh Sonny.

Rasa bersaudara adalah rasa satu kekerabatan. Modal sosial terbesar masyarakat kita adalah ikatan kekerabatan ini. Bersaudara dipahami dalam konteks lebih luas. Kita hidup di bumi yang sama, tanah air yang sama, maka kita berkerabat. Sebagai saudara, kita saling tolong menolong, saling melindungi. Ini juga yang merupakan filosofis dasar dari semangat korsa positif, yang laizim ditanamkan ditubuh TNI.

Dengan mengedepankan gagasan pemilu bedulur, tentu tidaklah mungkin kita akan saling hujat karena beda pilihan, karena menghujat pihak lain, sama dengan menghujat saudara sendiri. TNI akan fokus mengawal ini, bersama-sama dengan Polri. TNI akan mengawal sekaligus berusaha membangkitkan kembali modal sosial bangsa ini. Seluruh jajaran Korem 044 Gapo, dari Kodim, Koramil, bahkan hingga Babinsa akan memandang semua kita adalah bedulur. Siapapun presidennya, apapun partainya, siapapun caleg yang terpilih, semua adalah dulur kita. Pemilu kita Pemilu bedulur,” pungkasnya. (Dee)