Beranda Ruang Sidang Penggelapan Mengaku Mampu “Mengurus” Hukuman Ringan, Oknum PNS Kodam II Sriwijaya Gelapkan uang...

Mengaku Mampu “Mengurus” Hukuman Ringan, Oknum PNS Kodam II Sriwijaya Gelapkan uang 13 Juta Rupiah

Palembang –  Dengan alasan kepepet untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, Oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kodam II Sriwijaya, Hasan Basri bin Abdul Azis, nekad menggelapkan uang sebesar 13 juta milik Cik Man Hasanudi, untuk mengurus hukuman ringan anaknya yang terjerat kasus narkoba.

” Iya pak uangnya tidak saya serahkan ke jaksa, saya pakai sendiri karena kepepet keperluan sehari hari” ujar terdakwa, saat menjalani persidangan dengan agenda dakwaan dalam persidangan yang digelar di PN Klas 1A Khusus Palembang, Senin (22/8).

Namun, dirinya menyatakan bahwa telah melakukan perdamaian dan sudah mengembalikan uang uang tersebut ke saksi korban.

” Keluarga saya sudah patungan untuk mengembalikan uangnya pak, dan kami juga sudah ada perdamaian” terangnya.

Didalam surat dakwaan Hasan Basri (39)  yang tercatat sebagai warga jalan KH Marogan Lorong Bahagia RT 33 RW 07 Kelurahan Kemang Agung Kecamatan Kertapati Palembang,  didakwa telah melakukan tindak pidana penggelapan sebagimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP.

” Perbuatan terdakwa bermula pada tanggal 10 April 2016, Hasan Basri bersama dengan saksi atek datang kerumah  saksi korban Cik Man Hasanudin. Karena anak saksi korban sedang terjerat kasus narkoba di Polda, maka saksi atek memberitahukan kepada saksi korban bahwa terdakwa bisa mengurusi hukuman untuk anak saksi korban yang telah menjalani persidangan, dan terdakwa berjanji tuntutan anak saksi korban nanti bisa dibawah dua tahun, terdakwa meminta uang sebesar 10 juta rupiah kepada saksi korban, dan menurut terdakwa uang tersebut akan diberikan kepada jaksa yang menangani perkara anak saksi korban.” Terang JPU Kejari Palembang Ita Royani, saat membacakan surat dakwaan.

- BACA JUGA  Kamis Ini, Pahri dan Luci Jalani Sidang Perdana

Lanjut Ita Royani, bahwa kemudian pada tanggal 27 April 2016, sekitar pukul 15.00 wib, saksi korban memberikan uang sebesar 10 juta rupiah kepada terdakwa, dan beberapa hari kemudian terdakwa datang kembali menemui saksi korban dan meminta uang kembali sebesar 3 juta rupiah,untuk biaya transportasi terdakwa, kemudian terdakwa mengajak saksi korban untuk bertemu di Pengadilan, namun setelah saksi korban datang kepengadilan terdakwa tidak datang dan anak saksi korban telah dituntut dengan pidana penjara selama enam tahun dan delapan bulan. Selanjutnya saksi korban terdakwa akan tetapi tidak dapat dihubungi, ternyata uang tersebut tidak diberikan terdakwa kepada jaksa sesuai dengan janjinya melaikan uang tersebut digunakan oleh terdakwa sendiri untuk keperluanya. Akibat perbuatan terdakwa saksi korban mengalami kerugian sebesar Rp 13 juta rupiah.

- BACA JUGA  Simpan Inek 150 Butir, Neny Divonis 13 Tahun

Sebelumnya, seusai membacakan surat dakwaan, jaksa penuntut umum menghadirkan dua orang saksi, salah satunya adalah saksi korban Cik Man Hasanudin, yag menceritakan bahwa awlanya dirinya tidak mengenal terdakwa, namun dirinya dikenalkan anaknya, menurut keterangan anaknya bahwa terdakwa mampu mengurus hukuman ringan bagi anaknya yang terjerat kasus narkotika.

” Iya pak, awalnya saya tidak mengenal terdakwa, melalui anak saya, mengenal terdakwa, kata anak saya terdakwa mampu mengurus hukuman ringan” ungkap Cik Man.

Sementara itu, sidang yang diketuai oleh majelis hakim Hariyanto, setelah mendengar surat dakwaa, keterangan saksi dan keterangan terdakwa, menanyakan kepada jaksa untuk tuntutan.

” Kapan tuntutan akan dibacakan” tanya Hariyanto kepada jaksa.

Atas pertanyaan itu, jaksa Ita Royani langsung menegaskan bahwa surat tuntutan akan siap dibacakan satu minggu kedepan.

” Untuk tuntutan kami minta waktu minggu depan majelis” terang Ita Royani.(Ir)