Beranda Pendidikan Optimalisasi Peran MGMP/KKG untuk Membangun Mutu Guru Dikdas dalam Pembelajaran Abad 21

Optimalisasi Peran MGMP/KKG untuk Membangun Mutu Guru Dikdas dalam Pembelajaran Abad 21

Oleh Dian Eka Sari S Pd

Perkembangan arus teknologi dan informasi tak bisa dibendung lagi. Saat ini seolah tidak ada sekat waktu dan tempat yang memisahkan antara masing-masing individu. Perkembangan teknologi melalui internet sudah merambah ke semua bidang, termasuk bidang pendidikan.

Pendidikan saat ini sudah berbeda jauh jika dibandingkan pendidikan pada masa 80-an atau era 90-an. Hadirnya internet dalam genggaman memberikan dampak yang sangat signikan dalam dunia pendidikan.

Saat ini siswa yang sedang menjalani pendidikan disebut dengan generasi Z. Sementara itu, harus diakui bahwa sebagian besar guru yang mengajar sekarang, terutama di sekolah-sekolah negeri adalah guru-guru yang lahir tahun 80-an atau disebut generasi X. Bahkan, tak jarang guru-guru yang mengajar adalah kelahiran 60-an hingga 70-an.

Lompatan perbedaan antara pengajar dan peserta didik ini tentunya menimbulkan permasalahan baru yang bermuara pada proses pembelajaran di kelas. Ketimpangan permasalahan ini jika tidak dicarikan solusinya, maka tujuan pendidikan nasional sulit untuk dicapai.

Oleh sebab itu, untuk mengatasi lompatan teknologi ini, pemerintah melalui dalam Kurikulum 2013 mewajibkan guru dalam proses pembelajaran di kelas melakukan pembelajaran Abad 21 agar tercapainya pengembangan bakat, minat, dan potensi peserta didik yang berkarakter, berkompeten, serta literat.

Dalam aplikasinya di kelas, pembelajaran abad 21 ini mewajibkan guru mengombinasikan penilaian sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Selain itu, literasi, 4C (critical thinking, creative, colaboration, dan communication), dan soal-soal HOTS (high order thingking skill) menjadi mutlak diterapkan. Tujuan dan niat pemerintah dalam menyiapkan generasi emas ini memang patut diapresiasi semua guru.

Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan adalah tidak semua guru mampu melaksanakan pembelajaran abad 21 ini. Ini bisa disebabkan oleh banyak hal, terutama ketidakmampuan dalam menggunakan teknologi (gaptek).

Berdasarkan data yang diuraikan Yunus dalam detik.com bahwa pada tahun 2016, dari 69 negara, kualitas pendidikan di Indonesia berada pada peringkat ke-62. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas guru di Indonesia. Guru masih memosisikan dirinya sebagai subjek, sedangkan peserta didik sebagai objek pasif. Maka pembelajaran di kelas tak lebih dari transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik.

Senada dengan hal ini, Leonard (2015: 193) menjelaskan bahwa studi yang dilakukannya dengan melibatkan lebih kurang 60 guru di Jakarta didapatkan kesimpulan hampir 75% guru tidak mempersiapkan proses pembelajaran dengan baik. Dalam proses pembelajaran, guru lebih mengutamakan materi yang akan diajarkan bukan fokus pada pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, pembelajaran yang dilakukan di kelas lebih monoton dan membosankan menggunakan metode yang sama dari hari ke hari.

- BACA JUGA  Peringati Hari Kartini, Dharma Wanita Gelar Lomba

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis, permasalahan tentang rendahnya kualitas guru ini hampir sama terjadi di semua sekolah. Ketika diminta untuk membuat perangkat pembelajaran, guru lebih memilih untuk mengopi dari rekannya. Bahkan, ada yang membeli dari pihak penerbit.

Dengan demikian, permasalahan mutu guru bukan sekadar kekurangcakapan guru dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, tapi juga mempersiapkan pembelajaran itu sendiri. Termasuk dalam proses penilaian.

Bahkan, ada guru yang tidak bisa membedakan level kognitif menciptakan dengan mengingat.
Adanya realitas rendahnya mutu guru ini memang menjadi hal yang memprihatinkan. Guru sebagai ujung tombak pendidikan yang diharapkan bisa diandakan dalam mencetak generasi emas, ternyata masih berkutat dengan permasalahan klasik internal.

Hal ini tentunya sangat disayangkan karena pemerintah sudah menggelontorkan dana yang tidak sedikit sebagai upaya peningkatan mutu guru. Menurut Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi dalam laman kemdikbud, sejak 2016 hingga 2018, guru normatif dan adaptif telah mengikuti pendidikan keahlian ganda agar bisa menjadi guru yang produktif.

Pemerintah juga sudah memberikan tunjangan profesi kepada 210.269 guru non-PNS dan tunjangan khusus kepada 23.751 guru non-PNS. Selain itu, pada tahun 2017, pemerintah telah menyertifikasi 1,7 juta guru.

Adapun jika memperhatikan antara dana yang digelontorkan dengan peningkatan kualitas guru, maka sudah sewajarnya muncul anggapan miring dari masyarakat terkait tuntutan kinerja guru. Sehingga, tunduhan negatif bahwa tidak ada hubungan antara peningkatakan kesejahteraan guru dengan profesionalitas dan kompetensi guru.

Dengan kata lain, pemberian tunjangan hanya sekadar untuk meningkatkan kesejahteraan dan bukan untuk meningkatkan kompetensi guru yang bersangkutan.

Terlepas dari polemik tersebut, permasalahan mendasar tentang mutu guru, khususnya guru pendidikan dasar harus dicarikan jalan keluar, sehingga tidak berlarut-larut. Rendahnya mutu guru ini bisa diatasi salah satunya dengan jalan diberikan berbagai pelatihan.

Pelatihan ini bisa diberikan oleh pemerintah atau melibatkan organisasi profesi seperti PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) dan IGI (Ikatan Guru Indonesia). Namun, yang paling memungkinkan adalah melalui KKG (kelompok kerja guru) bagi guru SD dan MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) untuk guru SMP.

MGMP ini bisa menjadi solusi untuk menjembatani kelemahan guru dalam meningkatkan kompetensinya. MGMP/KKG bisa menjadi sarana bagi para guru untuk senantiasa belajar dan meng-up grade kemampuannya.

- BACA JUGA  UBD Buka Kelas Online Khusus Karyawan

Seperti diungkapkan Mulyasa dalam Anwar (2019: 2) bahwa MGMP adalah wadah atau tempat berhimpun yang bisa membantu dalam meningkatkan profsionalisme dan kinerja guru.
Dalam penelitiannya tentang peran MGMP Bahasa Indonesia SMP Ogan Ilir, Alamsari menyimpulkan bahwa MGMP Bahasa Indonesia SMP Ogan Ilir mampu membantu guru untuk peningkatan karier mereka.

Hampir 80% guru terbantu dengan pembimbingan dan kegiatan yang dilaksanakan dalam MGMP ini.
Anwar (2019: 11) dalam penelitiannya berjudul “Pengaruh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Terhadap Peningkatan Profesionalisme dan Kinerja Mengajar Guru SMA Negeri Kota Tasikmalaya” menjelaskan bahwa MGMP berpengaruh secara signifikan terhadap profesionalisme guru dan mempengaruhi kinerja mengajar guru.

Senada dengan hal tersebut, Firman (2016: 32) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa MGMP efektif membantu meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru. Hal ini menurutnnya bisa dibuktikan melalui perangkat pembelajaran yang dibuat guru ketika pelaksaan MGMP guru PAI di Kota Balikpapan.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut, keberadaan MGMP/KKG sangat penting sebagai penunjang peningkatkan kompetensi guru. Sehingga wajar, pemerintah demikian konsen dalam pembinaan MGMP melalui kucuran-kucuran dana yang diberikan.

Hanya saja, jika tidak ada bantuan yang diberikan oleh pemerintah, sudah sewajarnya guru harus menyadari kebutuhannya untuk meningkatkan kemampuan kompetensinya sendiri. Dengan kata lain, guru harus mengadakan kegiatan MGMP secara mandiri. Bukankah salah satu tujuan pemerintah memberikan tunjangan bagi guru adalah untuk peningkatan kompetensi guru yang bersangkutan? Atau dana yang masuk ke rekening pribadi, sebagian dialokasikan untuk membeli buku-buku penunjang pembelajaran, membeli kuota untuk mencari bahan ajar dan berbagai metode pembelajaran serta mengikuti pelatihan atau seminar untuk meningkatkan kompetensinya.

MGMP/KKG bisa bisa dioptimalkan jika melibatkan atau mengolaborasikan peran dinas pendidikan kabupaten/kota dan menuntut kesadaran serta kemauan yang tinggi dari guru yang bersangkutan untuk selalu mencari tahu dan belajar dalam meningkatkan kompetensinya. Dengan demikian, disparitas waktu dan perbedaan zaman antara guru dan peserta didik bisa diatasi.

Meskipun guru generasi X, setidaknya bisa menjadi guru zaman now yang mampu mengerti dan memahami para generasi Z. Jangan hanya menuntut peserta didik untuk selalu belajar, tapi guru juga harus memulai dan memberikan contoh bahwa ia juga selalu belajar.

(Penulis adalah guru SMP Negeri 54 Palembang)