Beranda Pendidikan Unsri Duduki Peringkat 20, 2019 Semua Riset Harus Outcome

Unsri Duduki Peringkat 20, 2019 Semua Riset Harus Outcome

Rektor Unsri, Anis Saggaff

 

PALEMBANG,    ––    Universitas Sriwijaya (Unsri) terus melakukan yang terbaik dalam mengembangkan riset. Baru-baru ini Unsri masuk dalam 50 Perguruan Tinggi Indonesia paling produktif dalam riset menurut Scopus, dimana menduduki peringkat 20 besar.

Menanggapi hal ini, Rektor Unsri, Anis Saggaff mengatakan, rangking untuk perguruan tinggi banyak, yaitu webomatrik, scopus, dan lainnya.

“Yang mereka lihat tidak hanya masalah riset namun juga masalah publikasi. Dan saat ini Unsri sedang mendombrak masalah riset, sehingga Unsri masuk rangking top twenty (20) menurut Scopus,” ujarnya usai menghadiri Dialog Publik Pembangunan Manusia, di Graha Unsri, Rabu (06/02).

“Ya bagus, berarti dari sekian banyak ribuan riset, dan Unsri masuk peringkat 20 besar. Akan tetapi kami akan terus meningkatkan riset,” katanya.

- BACA JUGA  Guru SMK Ikuti Program Keahlian Ganda

Dikatakannya, pada tahun 2019 ini, pihaknya sedang memperbanyak riset dengan sistem outcome. Ini sesuai dengan permintaan Kemenristek-dikti bahwa riset tidak hanya output tetapi outcemo juga.

Outcome di dalam kegiatan pendidikan menurut Lauren Kaluge (2000), yakni efek jangka panjang dari proses pendidikan misalnya pendidikan lebih lanjut, prestasi dan pelatihan berikutnya, kesempatan kerja, penghasilan serta prestise lebih lanjut.

“Jadi kita utamakan riset outcome sehingga masyarakat bisa menikmati hasilnya, dan ini tidak hanya paper saja, karena paper salah satu indikator. 2019 seluruh riset outcome. Syukur-syukur hasil karyanya bisa menguntungkan Unsri,” jelasnya kepada sumatera deadline.

- BACA JUGA  Pelajar Harus Jadi Pemateri Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional

Lanjutnya, sejuah ini Unsri sudah banyak riset dengan outcome, dicontohkannya, kedokteran Unsri ada 7 produk yang sekarang sedang menunggu paten dan ini sudah kita proses, dimana produk tersebut ialah ikan seluang dibuat menjadi obat osteoporosis dengan kadar 450, padahal kalau membeli diluar kadarnya hanya 300, pihaknya akan kerjsana dengan pabrik obat.

“Ada satu lagi riset kita, yaitu herbal dari ingeneering Fakultas Teknik dengan cara kita masukan satu alat ke sungai yang kotor dan nanti pada saat keluar airnya bisa diminum, sementara jumlah dananya kita sesuaikan,” tutupnya. (Elsa)