Beranda Kriminal Korban Tri Sempat Meminta Untuk Tidak Dibunuh

Korban Tri Sempat Meminta Untuk Tidak Dibunuh

 

PALEMBANG   —   Korban Tri Widyantoro, driver taksi online yang ditemukan tewas setelah 40 hari menghilang ternyata sempat meminta untuk tidak dibunuh kepada para tersangka yang telah menjerat lehernya dengan tali. Namun, permintaan korban tak digubris oleh para pelaku.

Hal ini terungkap setelah pelaku Tyas Driyantama (19), Salah satu tersangka yang bersatatus mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang mengaku dihadapan petugas yang memeriksanya Senin (2/4).

Dihadapan petugas Tyas membantah jika dirinya menjadi otak pelaku perampokan yang disertai Pembunuhan terhadap korban Tri. Menurutnya, Poniman dan Hengki lah yang melakukan eksekusi, sedangkan dirinya hanya memegang kaki dan tangan korban.

” Yang melakukan eksekusi itu Poniman dan Hengki, saya hanya pegang tangan dan kaki saja. Termasuk yang memesan Go-Car dan juga buang mayat ke Muara Sungang itu mereka berdua, Bayu pegang kaki korban karena sempat melawan,” katanya saat di ruang pemeriksan Jatanras.

- BACA JUGA  Ditipu Karyawan Sendiri, Wati Merugi 145 Juta

Korban sempat berteriak saat di jerat dan minta pertolongan dengan menekan klakson mobil. Bahkan pelaku sempat mengucapakan kata terakhir sebelum akhirnya tewas.

“Jangan bunuh saya. Kalau mau ambil uang, mobil dan harta ambillah. Tetapi tolong jangan bunuh saya. Saya masih ada anak dan istri,” kata Tyas menirukan perkataan terakhir korban saat dalam kondisi dijerat.

Mendengar ucapan itu, Tyas sempat tak berani memegang tangan korban. Karna dipaksa oleh ketiga temannya ini, Tyas akhirnya kembali pegang dan menarik tangan korban. Namun Tyas sambil memejamkan mata karena panik dan takut.

- BACA JUGA  Di iming-imingi Dapat Hadiah, Malah Hilang uang Jutaan Rupiah

Poniman dan Hengki semakin keras menarik tambang di leher korban yang duduk di kursi kemudi mobil. Sampai akhirnya korban tidak berdaya dan tewas di dalam mobilnya sendiri.

Setelah korban tewas, keempat pelaku sempat berembuk untuk membuang jasad korban. Tyas mengusulkan agar korban dikubur secara layak. Tetapi tiga teman lainnya menolak, dengan alasan keamanan dan takut dilihat orang lain.

“Saya usul untuk dimakamkan dengan layak, tapi yang lain menolak. Akhirnya dibuang ke Muara Sungsang, itu juga Poniman dan Hengki yang angkat mayat dan saya bersama Bayu tunggu di mobil,” kata Tyas mengingat kembali saat membuang jasad korban. (And)