Beranda Pendidikan Grahita Indonesia Adakan Pelatihan Pentatonik

Grahita Indonesia Adakan Pelatihan Pentatonik

 

PALEMBANG. ¬†— ¬†Guna mengaktifkan lima fungsi otak , Lembaga Psikologi Terapan Grahita Indonesia adakan pelatihan Pentatonic Brain Activatio di Hotel Sandjaja, Senin (1/5).

Lembaga Psikologi Terapan Grahita Indonesia sebagai sebuah lembaga psikologi terapan, perlu mengambil peran ditengah masyarakat. Salah satu peran yang strategis adalah dengan mengaplikasikan ilmu pengetahuan psikologi bagi berbagai kepentingan masyarakat.

Dari pantuan sumatera deadline, anak-anak begitu antusias saat mengikuti pelatihan pentatonik. Yang diikuti 20 peserta, acara tersebut berlangsung selama dua hari, dari tanggal 30 April sampai 1 Mei 2017.

Pimpinan Palembang Grahita Indonesia, Esti Rahayu mengatakan, pelatihan ini untuk mengaktifkan 5 otak kreatif, yaitu Hemisphere kanan kiri, Hypocampus, Reflex Brain, Neural Creativity Brain, Trance Brain System.

- BACA JUGA  UUD 45 Harus Diterapkan Dikehidupan Nyata

“Anak-anak yang ikut pelatihan ini kebanyakan yang sulit berkonsentarsi dalam belajar, maka dari itu adanya pelatihan pentatonik,” kata Esti disela pelatihan.

Dikatakan Esti, peserta pentatonik adalah siswa yang sulit berkonsentrasi saat proses belajar disekolahnya. Saat pelatihan ini para peserta akan diajarkan 14 digit kata dengan menghafal cepat (rithmind).

“Peserta yang ikut ini, semuanya kita pilih. Dan tidak boleh kurang atau lebih dari 20 peserta. Dan proses pelatihannya kita akan ajarkan dengan menghafal cepat,” tuturnya.

Ia berharap, dengan adanya pelatihan ini, peserta akan lebih aktif lagi dalam proses belajar disekolahnya, “Menjadikan anak-anak konsentrasinya lebih bagus sehingga bisa mengkuti belajar secara maksimal,” harapnya.

Sementara itu, Founder Lembaga Psikologi Terapan Grahita Indonesia, Eko Budhi Purwanto menjelaskan, sebenarnya secara umum otak punya 5 fungsi. Ketika mereka lahir tidak selalu profosional, maka dari situ mereka kehilangan proses.

- BACA JUGA  Latihan Diksar, Dua Mahasiswa FKIP Unsri Tewas Tenggelam

“Proses tersebut akan dikembalikan dengan format perkembangan, karena berpengaruh di saraf. Saraf memiliki foktek aliran elektrik, bila tidak sampai pada tempatnya, maka anak akan gagal fokus, nah disitulah anak sulit berkonsentrasi,” terangnya kepada wartawan sumatera deadline.

Lanjutnya, proses belajar bukan menghafal akan tetapi menghubungkan hemisfer kanan dan kiri ketika digabungkan akan selaras untuk keseimbangan anak.

“Anak-anak cuma dituntun melaksanakan sesuai dengan perkembangannya atau sesuai dengan usianya. Jadi kalau anak bisa menyukseskan perkembangannya secara normal itu sangat bagus,” pungkasnya. (Elsa)